The Glasses

mood-glasses-warm-picture-photo-vintage-hd-wallpaper

The Glasses

a Ficlet written by xxjungiexx

starring by (YG New Artist) Jennie Kim.

Life, Family, Supernatural. || G

Disclaimer: based on an urban legend by mengakubackpacker.

Let the story begin!

.

Ini semua tentang Jennie Kim dan kacamata spesialnya.

Namaku Jennie Kim. Orang – orang sering menyebutku sebagai titisan dewi karena hampir semua yang ada pada diriku mendekati kata sempurna. Aku memiliki rambut hitam sebahu yang terawat. Selain itu, mataku berwarna coklat hazel yang membuatku kadang terlihat seperti mengenakan lensa kontak padahal tidak.

Namun, ada satu hal yang membuat diriku tidak bisa mencapai kata sempurna.

Mataku buta. Bisa dikatakan sebuta kelelawar. Asal kau tahu, kelelawar sebenarnya tidaklah buta. Mereka hanya memiliki penglihatan yang sangat buruk, itu saja. Jadi.. kau bisa mengerti kondisiku kan? Maksudku, aku tidak seburuk orang buta. Aku masih bisa melihat, walaupun samar – samar.

Orang tuaku mengetahui hal ini semenjak umurku tujuh tahun. Dan sekarang aku sudah berumur sepuluh tahun. Teman – temanku tidak ada yang tahu jika penglihatanku seburuk kelelawar. Mereka selalu beranggapan bahwa aku normal seperti manusia pada umumnya. Karena meskipun penglihatanku buruk, aku masih bisa melihat bayangan – bayangan kabur, figur samar – samar dan warna – warna yang terlihat buram. Semua hal itu cukup untuk membuatku tidak menabrak orang lain. Sementara itu, untuk membedakan mereka, aku mengenali mereka dari suaranya. Jadi, sejauh ini tidak ada yang curiga dengan keadaanku.

Hal yang paling kubenci didunia ini adalah membaca. Mengapa? Karena membaca adalah hal tersulit yang harus kulakukan. Aku harus menggunakan huruf braillle, karena aku tidak bisa membaca huruf normal. Maka dari itu, jika di sekolah, aku selalu duduk di belakang supaya teman – temanku tidak memperhatikanku.

Di suatu siang,aku baru saja pulang sekolah. Ibu sudah menyambutku dengan gembira seperti biasanya. Namun, menurutku, ada sedikit perbedaan dalam senyumannya.

“Ibu terlihat berbeda, ada apa?” aku segera mengutarakan perasaanku pada ibu.

“Oh, kau mengetahuinya? Kau benar – benar anak ibu.” Ucap Ibu sambil tersenyum membawakan tasku masuk kerumah.

“Ibu, ada apa?” aku merengek ingin diberitahu.

“Jennie, ibu dan ayah berhasil mendapatkan donor mata untukmu!” ibu memekik senang sambil memelukku erat. Aku sebaliknya. Walaupun mata ini tidak bisa melihat dengan jelas, tapi mata ini sangat cantik dan aku menyukainya.

“Ibu!” aku melepas pelukan ibu sambil menatapnya tajam.

“Aku.. aku tidak ingin donor mata atau apapun itu! aku tidak ingin mata ini digantikan dengan mata yang lain! Mata ini.. sudah menjadi bagian dari hidupku, bu.” Aku mulai menangis. Sebenarnya, aku juga ingin memiliki sepasang mata yang bisa melihat dengan normal. Tapi.. mata inilah yang sudah membuatku mendapat julukan sebagai titisan dewi dan aku tidak ingin kehilangan julukan itu.

“Jennie, dengarkan ibu.” Ibu berkata lembut sambil mengusap rambutku.

“Apa kau yakin dengan keputusanmu? Tidak akan pernah ada kesempatan kedua, nak. Sekalipun ada, kesempatan kedua tidak akan pernah sebagus kesempatan pertama. Lagipula, hanya ada segelintir orang baik didunia ini yang mau mendonorkan mata mereka untukmu.” Tangan ibu masih mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang. Aku bisa merasakan kepedihan dari nada bicaranya. Tentu saja, semua orang tua di dunia pasti ingin melihat anaknya tumbuh dengan sehat dan bahagia, bukan?

“Ibu, keputusanku sudah bulat dan aku tidak ingin merubahnya.” Ucapku tegas sambil menatap ibu dalam. Aku ingin ibu mengerti perasaanku.

“Baiklah terserah padamu. Tapi, ibu harap kau masih mau mempertimbangkan hal ini.” Ucap Ibu sambil tersenyum lembut. “Ah ya, masakan ibu sudah hampir dingin, kau belum makan dari tadi kan? Ayo lekas ganti bajumu lalu kita makan siang.” Ibu tersenyum sambil beranjak memanaskan masakannya. Aku masih berdiri disini. Terdiam. Tidak tahu apa yang harus kulakukan. “Hei, cepatlah! Sebelum ini kembali dingin!” ucap ibu sambil menunjuk masakannya yang masih bertengger diatas kompor.

“Iya bu.” Aku mendengus kesal sambil menaiki tangga menuju kamarku.

***

Tiga tahun sudah berlalu semenjak aku mendapatkan donor mata itu. Setelah aku bersikeras menolak, ayah dan ibu sudah tidak pernah memaksaku untuk melakukan donor mata lagi. Mereka sudah menyerah dengan sifatku yang keras kepala ini.

Sekarang, aku sudah duduk di bangku kelas satu sekolah menengah pertama. Ayah dan ibu mulai mengkhawatirkan penglihatanku lagi. Karena semakin aku beranjak dewasa, aku tidak bisa terus – terusan membohongi teman – temanku. Semakin dewasa, mereka semakin pintar. Bahkan, beberapa dari mereka sudah mulai mencurigaiku. Aku benar – benar bodoh sekali. bagaimana bisa tiga tahun yang lalu aku membuang kesempatan yang begitu besar? Aku pun akhirnya menyerah mempertahankan mata coklat hazel yang cantik ini. Pulang sekolah nanti aku harus bicara pada ibu.

Ibu menyambutku seperti biasa ketika aku pulang sekolah. Aku segera mengganti bajuku dan turun ke ruang makan. Aku harus segera membicarakan keinginanku pada ibu.

“Ngg.. ibu” ucapku memanggil ibu dengan ragu.

“Ya, ada apa sayang?” ibu menghidangkan sepiring sup ayam dihadapanku. Baunya yang lezat menguar kedalam hidungku.

“Aku.. ingin menjadi normal.” Ucapku sambil menundukkan kepalaku. Aku tidak mendengar ibu menjawab perkataanku. Yang kurasakan selanjutnya, dia memelukku dengan begitu erat.

“Jennie.. ibu senang kau akhirnya mau merubah keinginanmu.” Ucap ibu sambil sesegukan. Apa ibu menangis terharu?

“Ibu dan ayah akan mengusahakan hal itu.” ucap ibu yang aku yakin pasti saat ini sedang tersenyum.

Keesokan harinya, aku, ibu, dan ayah pergi ke dokter untuk konsultasi. Ibu menceritakan semuanya pada dokter itu. Ibu juga menyampaikan alasanku sebelumnya yang tidak mau dioperasi karena mata yang cantik ini. Uh, sayang sekali sebentar lagi mata ini tidak akan menjadi milikku lagi.

“Sepertinya saya memiliki cara lain untuk mengobati penyakit anak anda selain dengan donor mata.” Ucap dokter itu membuat kami semua terkejut. Memang ada cara lain? Dari semua dokter yang sudah kukunjungi, mereka hanya mengatakan donor mata lah satu – satunya cara untuk menyembuhkanku.

“Saya bisa membuatkan kacamata spesial khusus untuk Jennie.” Ucap dokter itu lalu tersenyum sambil mengelus rambutku.

Sebulan kemudian, kacamata spesial untukku sudah jadi.

Aku dapat melihat segalanya! Dokter, ruang periksa, perawat, wajahku, ayah dan ibu, aku bisa melihat semuanya! Dengan takjub, aku menatap wajah orang tuaku dengan berkaca – kaca. Ternyata inilah wajah orang tua yang selama ini membesarkanku dengan sabar.

Namun ketika mataku menelisik ruangan dengan gembira, aku masih dapat melihat beberapa orang yang tetap terlihat samar, gelap, dan kabur. Mereka berjumlah banyak. Dan aku tahu, mereka mengawasiku sama seperti aku mengawasi mereka.

Parahnya, aku baru melihat bahwa kaki mereka tidak menyentuh tanah.

The Glasses – END

 

Hallo!

Jadi ini sebenernya buat tugas sekolah sih hehe 😀 cuman daripada nganggur di laptop, jadinya aku post disini deh xD.

Jadi, ini fic bukan murni buatanku. Garis besar ceritanya aku ambil dari urban legend terjemahan di blog mengakubackpacker dan sisanya aku tambah sendiri. Jadi kalo kalian ada yang merasa ‘familiar’ sama cerita ini, bukan berarti aku jiplak atau copas ya karena sebelumnya aku juga udah izin dulu sama kak Dave J

Okeh sekian dulu lah cuap – cuapnya. Bye!~

Mind to leave a comment or review?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s